Tulisan terakhir penulis buntung

Oleh FINKA Novitasari

SEMALAMAN wajah itu kembali membayangi. Waktu istirahatku benar-benar terganggu. Ia hadir dalam mimpiku. Apa ini sebuah pertanda? Kalau benar mengapa? Ia terus menerorku seolah-olah akulah yang pantas disalahkan atas kematiannya.

***
Obituari Johan muncul di surat khabar kelmarin pagi. Memberitahuku di mana ia tinggal dan kapan disemayamkan. Aku pergi ke Kota X sore itu dengan kereta paling akhir. Dihantar hawa dingin dan gerimis berbalut kabut Bulan Desember.

Mungkin orang-orang akan menganggapku lelaki gila yang menggunakan waktunya dengan hal sia-sia; melawat ke tempat yang jauh, padahal tidak ada hubungan kekerabatan.

Kematian Johan telah memanggilku untuk tiba di Kota X, kota tempat Johan tinggal. Terdengar misterius memang, ya … begitulah adanya. Belakangan, tidak mudah bagiku membongkar timbunan peristiwa silam.

Kuanggap itu sebatas angin lalu yang tiada bererti apa-apa. Namun, justeru kejadian itulah musabab dari semuanya.

Aku bertemu dengannya dengan cara tidak sengaja. Aku sedang istirahat sejenak sepulang dari kampus. Johan ikut duduk di sampingku menenteng koran, kala itu. Pertama kali perjumpaan, kami saling menyapa seperlunya. Namun, karena sering bertemu di tempat yang sama, kami pun berbincang lebih intens.

Augusto Johan, demikian ia memperkenalkan diri. Ia hanya ingin dipanggil Johan saja, tanpa embel-embel ‘Pak’ atau gelar lain.

Usianya cukup tua untuk ukuran manusia, barangkali berbagai penyakit turut melumpuhkan saya ingatnya. Khabar terakhir yang aku dengar sejak perjumpaanku dengannya, Johan sering keluar masuk rumah sakit untuk cuci darah. Kufikir juga itulah musabab ia meninggal.

Namun, dugaanku salah besar. Johan meninggal bukan kerana usianya yang telah sepuh. Bukan pula kerana penyakit menahun yang dideritanya. Johan meninggal usai ia memotong sendiri kedua tangannya. Aku tiada mengerti bersebab apa ia melakukan hal segila itu.

Aku sering mendengar ia bergurau, meracau, hingga membual. Akan tetapi, tidak pernah menyangka ia benar-benar akan melakukannya.

Sejalan dengan obituari Johan, surat kabar kemarin turut memuat tulisannya—barangkali menjadi tulisan terakhir Johan.

Tiada guna menulis jika yang ditulisnya tidak mengubah apapun. Rangkaian kata dari jutaan tulisan tersebar di seluruh penjuru dunia. Namun, hanya nol koma nol nol nol sekian yang mampu mengubah keadaan. Banyak yang menulis, tetapi tidak melakukan aksi sebagaimana tulisannya.

Banyak yang menulis, tetapi tidak mengerti esensi dari tulisannya. Saya penulis dan saya telah dipecundangi oleh tulisan saya sendiri.

Demikian kira-kira isinya. Johan mengaku seorang penulis di Kota X. Ia juga mengaku sangat mencintai buku. Rumah tinggalnya disulap menjadi perpustakaan mini.

Johan pernah berkata padaku bahwa ia akan hidup dengan buku-bukunya; mengabdi dengan tulisan-tulisannya. Johan begitu antusias menceritakan sepak terjangnya di dunia tulis-menulis.

Ia berkali-kali memenangkan pertandingan esei, karya ilmiah, hingga kerap diundang di pelbagai gelar wicara maupun seminar di kampus-kampus. Namun, itu dulu, usai pensiun Johan menulis hanya sesekali saja.

Kubiarkan dulu ia berkisah sesuka hati. Kuanggap itu sebatas racauan seorang pria tua yang barangkali mulai terganggu daya ingatnya

“Buat apa menulis kalau tidak mengubah apapun,” kataku menyeletuk diiringi gelak tawa di tengah antusiasnya bercerita, kala itu. Betapa aku puas mengatakannya. Kulihat wajah Johan memucat. Ia bergeming. Entahlah. Ia hanya bisa diam, barangkali telah skak mat.

“Mengapa diam?” tanyaku.

“Kalau begitu lebih baik aku potong saja tanganku agar berhenti menulis,” katanya.

Aku makin tertawa terpingkal-pingkal sampai perutku ikut nyeri. Aku tidak bermaksud kurang ajar, namun ini benar-benar gokil. Akan tetapi, lama-kelamaan aku jadi tidak enak hati.

Keheningan tiba-tiba menjerat pikiranku, Johan juga barangkali. Hingga akhirnya hari itu menjadi hari terakhir perjumpaanku dengannya. Ia tidak terlihat lagi di taman kota.

Aku mencarinya, namun Johan benar-benar telah menghilang.

Aku tidak menyangka semuanya akan jadi seperti ini. Huh, kereta telah melaju menembus batas senja. Sisa gerimis masih membekas di jalanan yang tampak kemilau basah disepuh cahaya.

Perjalananku masih panjang. Jika menurut jadwal, aku akan tiba di Kota X esok hari sebelum Subuh. Sebentar lagi langit juga akan meninggalkan jejak gelap.

Saat itu pula mataku sulit sekali terpejam. Bayangan mimpi yang akhir-akhir ini hadir dalam lelapku, tiba-tiba muncul di kaca buram kereta. Ah, sial!

***
Pagi yang temaram, aku tiba di Kota X, berdiri di depan sebuah bangunan tua tidak jauh dari pusat kota—sesuai alamat yang tertera dalam obituari Johan. Kursi-kursi kosong masih berjajar di halaman rumah.

Barangkali kursi untuk para pelayat yang belum sempat dibereskan. Kebetulan seorang wanita tua sedang memangkas beberapa pot bonsai di sana. Aku gegas menghampirinya. Menyapanya.

Perempuan itu menatapku hairan. Setelah kujelaskan bahwa aku kawan dekat mendiang suaminya, barulah ia mempersilakanku untuk masuk.

Di dalam, foto maupun piagam yang dibingkai figura berjajar rapi di dinding ruang tamu. Ah, rupanya Johan tidak bercanda dengan ucapannya.

“Johan memotong kedua lengannya sendiri. Ia tidak ingin menulis lagi.”

Wajah perempuan berambut perak itu menyiratkan selaksa kesedihan. Aku makin merasa bersalah. Ya, ini semua memang salahku. Kalau saja dulu tidak membual yang tidak-tidak, pasti Johan sekarang masih hidup dan masih menulis. Penyesalan tinggallah penyesalan. Tak akan mungkin mengubah keadaan yang sudah terjadi.

Isteri Johan kembali ke ruang tamu setelah beberapa saat lalu izin pergi sebentar. Ia membawa sesuatu, tetapi bukan minuman atau suguhan, melainkan sebuah peti kecil. Isteri Johan mengeluarkan dua buah tangan manusia. Aku berkali-kali menelan ludah saking terkejutnya.

“Ini tangan suamiku, karena ia tidak ingin tangannya ikut terkubur,” katanya kemudian.

“Mengapa?” selangku.

“Johan tidak ingin tangannya ikut serta ketika ia bertemu Tuhan nanti. Ia merasa berdosa. Selama ini Johan menulis dan terus menulis, tapi tidak melakukan apapun sebagaimana tulisannya.

Suamiku teramat sedih, hingga akhirnya memutuskan untuk memotong kedua tangannya.” Isteri Johan kembali tergugu. Barangkali ia benar-benar terpukul atas kematian suaminya.

“Dan ini …,” ia menjeda sesaat ucapannya, lantas mengeluarkan selembar kertas. Aku mengernyitkan kening. “Malam sebelum kematiannya, Johan masih menulis.”

Isteri Johan menyerahkannya padaku. Isi tulisannya tidak asing, serasa pernah membacanya. Persis tulisan yang terbit di surat khabar nasional kemarin bersamaan dengan obituari Johan.

Aku tidak ingin membacanya lebih lanjut. Kulipat lagi. Aku merebahkan tubuh ke sofa; mengatur nafas.

Aku sejenak beralih tatap melemparkan pandang ke luar jendela, menamatkan satu titik pada cahaya kemerah-merahan. Titik terjauh, titik paling sendu. Di tengah rasa bersalah dan temaram sore itu, kutatap ponsel yang tergeletak di atas meja. Ponselku seolah memberi isyarat untukku agar segera membukanya. Tetapi, bukan sebuah pesan masuk.

Jika tulisanku tidak mampu mengubah apapun, berarti tugasmu yang melakukan perubahan.

Aku menatap sudut atas layar ponsel. Sebuah pesan bertanggal tiga bulan lalu. Nama Johan terpampang jelas di sana. Aku tersenyum sesaat setelah menekan tombol keluar dari salah satu aplikasi perpesanan.
Pacitan, Disember 2021

 

****Finka Novitasari, mahasiswi Manajemen Universitas Alma Ata, Yogyakarta.

Beberapa karyanya telah dimuat di media cetak maupun daring.

Bergiat di Komunitas Penulis Anak Kampus (KOMPAK) dan Kelas Menulis Daring (KMD) elipsis.

scroll to top