Puisi360 Pilihan Minggu Ini

DE EKA PUTRAKHA berasal dari Bukittinggi Sumatera Barat dan kini mentap di Bandung. Mulai aktif menulis sejak sepuluh tahun lalu. Profilnya dapat dibaca dalam buku “Ensiklopedi Penulis Indonesia jilid 6” FAM Indonesia. Buku tunggalnya Hikayat Sendiri (2018) dan Perayaan Kata-Kata (2019). Tulisannya dimuat lebih dari 100 judul buku antologi serta berbagai media cetak dan online. Terpilih sebagai Pemenang 10 Resensi Terbaik “Resensi Buku Peringkat ASEAN 2020” anjuran Persatuan Penyair Malaysia. Dapat dihubungi via Facebook: De Eka Putrakha, instagram: @deekaputrakha.

 

Dalam Diam

ini puisiku yang ke sekian kali

dengan rasa yang tetap sama

serta rindu yang berulang-ulang

tak pernah jemu kususun

kata demi kata yang berdiam

seperti bagaimana caraku diam-diam

menyebut namamu dalam doa

dalam kesendirian

aku meraut semua kegelisahan itu

mencoba menemukan celah

untuk rasaku yang terlalu lama

menunggu (dalam diam) merindumu

aku akan terus berjalan

memungut beraian duka lara

meyakinkan kembali langkahku

untuk menemukan, bukan untuk kehilangan

De Eka Putrakha

Bukittinggi, Sumatera Barat

 

Kata-Kata Penguat

Cerita lama menghampiriku lagi

ingatan-ingatan itu seakan

mengabarkan tentang kekuatan hati

asaku tenggelam di palung terdalam

keinginan hati meronta

memintaku untuk bangkit

kembali ke permukaan

aku tergamang jika goresan pena

mematahkan semangat

meski kuhimpun kata-kata penguat

aku begitu lemah

dan hati terus menerus menguatkan

kini cerita lama akan terus ada

kujadikan ia bagian langkah asa

mereka bisa saja menghalangi

namun hatiku tidak mudah dibatasi

De Eka Putrakha

Bukittinggi, Sumatera Barat

 

Langkah

Gemuruh dalam dada seketika sirna

kesunyian menyusup perlahan

menghujamkan hening hingga ke relung

kukemasi lagi air mata

meski tak seorang pun tahu

aku terjatuh amat dalam

dan cerita tak kuasa dibangunkan

tatapan nanarku seolah

menarikan asa-asa beterbangan

biarkan terbang lepas bebas

aku ingin pergi

sebelum kepulangan kutemui lagi

dari sini aku memulai langkah

menepikan duri yang menghadang

dari sana aku mengakhiri langkah

menyatukan sepi yang meradang

De Eka Putrakha

Bukittinggi, Sumatera Barat

 

Perih Kubawa Berlari

Mereka tidak akan menemukan kembali

duri-duri yang ditanam pada setiap langkah kuberjalan

perih sudah kubawa berlari

sekuat tenaga, sekencang-kencangnya

tak usah dicari dan itu tak perlu

aku telah membawa sepi

serta hingar bingar yang seketika membisu

duri-duri itu membatu

menjadi penyandung penghalang langkah

aku telah menghilang dari tatapan tak bersahaja

tak usah dicari

sebab duri yang membatu menjadi tempat pijakan

melompati jutaan asa

biarkan kehampaan kubawa terbang

duka sudah kepalang tanggung merundung hati

suatu hari nanti

andai mereka tidak ingat lagi

aku telah berusaha menguatkan hati

De Eka Putrakha

Bukittinggi, Sumatera Barat

scroll to top